Thursday, September 17, 2015

Nabi SAW Perlihatkan Dahsyatnya Keburukan Ghibah

Perbuatan Ghibah (Membicarakan Keburukan Orang Lain) seakan tidak pernah lepas dari keseharian kita. Setiap pembicaraan pasti dengan sendirinya akan mengarah pada ghibah. Kalau istilah sekarang dibilang “Gosip”. Setiap kesalahan dan keburukan orang lain yang dibicarakan itu adalah Ghibah. Meskipun itu benar adanya dan selama pembicaraan itu tidak disenangi oleh orang yang dibicarakan. Namun jika yang dibicarakan itu adalah kesalahan dan keburukan yang tidak ada dasarnya (tidak benar) maka perbuatan itu jatuh kepada “Fitnah”. Ghibah juga ternyata terjadi juga diantara kalangan sahabat. Untuk itulah Nabi selalu mengingatkan untuk menjauhi ghibah. Hingga suat saat Nabi SAW memperlihatkan Dahsyatnya Ghibah tersebut.

Peristiwa ini terjadi pada Ahlush Shuffah, Para sahabat Ahlush Shuffah adalah para sahabat yang tinggal di serambi masjid Nabi SAW karena keadaan mereka yang miskin, atau mereka yang memilih untuk tinggal di sana karena ingin selalu dekat dan bertemu dengan Nabi SAW setiap saat. Mereka tidak makan/minum atau berganti pakaian/kain kecuali yang diberikan oleh Nabi SAW, dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah dan menimba ilmu dari Nabi SAW. Keadaan ini sangat menguntungkan karena ketika terjadi kesalahan atau mereka terjatuh dalam kemaksiatan, yang samar sekalipun, Nabi SAW akan langsung mengoreksi mereka, seperti peristiwa berikut ini.

Suatu ketika Zaid bin Tsabit, seorang sahabat Anshar yang masih muda, tetapi mempunyai kedekatan dengan Nabi SAW, bahkan memiliki kelebihan di bidang ilmu Al Qur’an, sedang berada di antara sahabat ahlush shuffah. Ia menceritakan beberapa riwayat atau hadits yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah SAW, atau mungkin dialaminya sendiri bersama beliau. Walau kelihatannya mereka tampak senang mendengarkan, tetapi ada beberapa orang sahabat yang tampak kurang berkenan.

Tiba-tiba datang seorang utusan yang datang kepada Nabi SAW dengan membawa daging yang cukup banyak. Maka salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Zaid, masuklah ke rumah Rasulullah dan katakan bahwa kami sudah cukup lama tidak makan daging. Mungkin beliau akan memberikan sebagian daging itu untuk kami!!”

Ketika Zaid bangkit menuju rumah Nabi SAW, sebagian dari mereka berkata, “Lihatlah Zaid ini, bukankah kita semua bertemu dengan Rasulullah sebagaimana dia bertemu dengan beliau (Maksudnya, tidak ada kelebihan Zaid terhadap mereka), mengapa ia duduk di sini mengajarkan hadits kepada kita??”

Setelah diijinkan, Zaid masuk ke rumah Nabi SAW dan menyampaikan permintaan/pesan para sahabat ahlush shuffah itu. Tetapi Nabi SAW bersabda, “Katakan kepada mereka bahwa saat ini mereka sedang makan daging!!”
           
Zaid bin Tsabit tampak terheran-heran dengan perkataan Nabi SAW, ia melihat sendiri bahwa mereka tidak makan apapun, bahkan tampaknya mereka sedang lapar. Tanpa membantah dan menjelaskan apa yang dilihatnya, Zaid kembali ke ahlush shuffah dan menyampaikan pesan Nabi SAW. Merekapun berkata, “Demi Allah, sudah sekian lama kami tidak memakan daging!!”
Zaid kembali kepada Nabi SAW menyampaikan perkataan sahabat ahlush shuffah itu, tetapi dengan tegas Nabi SAW bersabda, “Saat ini mereka sedang makan daging!!”

Zaid menemui para sahabat itu dan menyampaikan pesan beliau. Mereka bangkit, datang berombongan menuju rumah Nabi SAW. Setelah mereka berkumpul, Nabi SAW keluar rumah dan berkata, “Kalian semua baru saja makan daging saudaramu ini (sambil menunjuk Zaid), dan bekas daging itu masih tersisa di gigi-gigimu itu. Meludahlah sekarang supaya kalian dapat melihat merahnya daging itu!!”

Benar saja, begitu mereka meludah, tampaklah warna merah darah di antara ludahnya. Mereka terkejut dan sangat heran dengan apa yang terjadi. Dengan sebab kejadian itu Mereka merasa malu dan menyesali apa yang telah mereka lakukan terhadap Zaid. Akhirnya Merekapun bertaubat, kemudian meminta maaf dan kehalalan dari Zaid bin Tsabit. Setelah tahu duduk persoalannya, dengan senang hati Zaid memaafkan mereka.

Begitulah perumpamaan orang yang mengghibah. Sungguh orang yang mengghibah saudaranya muslim seperti ia memakan daging saudaranya sendiri.

Pada riwayat yang lain juga diceritakan bahwa Nabi SAW sedang berjalan-jalan dengan beberapa orang sahabat. Tiba-tiba tercium bau busuk seperti bau bangkai terbawa angin. Langsung saja Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang munafik yang menggunjing orang-orang muslim, karena itulah bertiup angin yang berbau busuk ini!!”

Marilah kita lebih menjaga dan menjauhkan sifat senang menceritakan Keburukan Orang Lain.


[Ibnu Ghufron]

Wednesday, September 16, 2015

8 Hal Yang Lebih Disukai Rasulullah

Anas bin Malik RA, adalah seorang sahabat ‘kecil’ Rasulullah SAW yang membaktikan hidupnya untuk menjadi pelayan beliau hingga beliau meninggal dunia. Dikatakan sahabat ‘kecil’ karena ia telah diserahkan ibunya,  Ummu Sulaim binti Milhan kepada Nabi SAW ketika usianya belum mencapai sepuluh tahun. Karena masih kecil itu, ia sangat akrab dan disayang oleh Rasulullah SAW layaknya putra beliau sendiri. Dan karena sejak masih kecil pula, ia banyak ‘merekam’ peristiwa dan ucapan-ucapan beliau, sehingga ia menjadi salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW.

Suatu ketika Nabi SAW tampak dalam keadaan agak ‘santai’, maka Anas bin Malik mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, sepotong roti yang saya shodaqohkan atau saya shalat sunnah seratus rakaat?”
Nabi SAW bersabda, “Sepotong roti yang engkau shodaqohkan itu, lebih aku sukai daripada engkau shalat sunnah duaratus rakaat!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, memenuhi kebutuhan sesama muslim atau shalat sunnah seratus rakaat??”
Nabi SAW bersabda, “Memenuhi kebutuhan sesama muslim itu, lebih aku sukai daripada shalat sunnah seribu rakaat!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, meninggalkan sesuap makanan yang haram atau shalat sunnah seribu rakaat??”
Nabi SAW bersabda, “Meninggalkan sesuap makanan haram itu, lebih aku sukai daripada shalat sunnah dua ribu rakaat!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, meninggalkan fitnah (mengumpat/mengghibah) atau shalat sunnah seribu rakaat??”
Nabi SAW bersabda, “Meninggalkan fitnah itu, lebih aku sukai daripada shalat sunnah sepuluh ribu rakaat!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, memenuhi kebutuhan seorang janda atau shalat sunnah sepuluh ribu rakaat??”
Nabi SAW bersabda, “Memenuhi kebutuhan seorang janda itu, lebih aku sukai daripada shalat sunnah tigapuluh ribu rakaat!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, duduk-duduk bersama keluarga atau duduk (i’tikaf) di masjid??”
Nabi SAW bersabda, “Duduk sesaat bersama keluarga itu, lebih aku sukai daripada i’tikaf di masjidku ini!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, memberi belanja keluarga atau berinfak di jalan Allah??”
Nabi SAW bersabda, “Satu dirham yang dibelanjakan oleh seseorang untuk keluarganya, lebih aku sukai daripada seribu dinar yang ia infaqkan di jalan Allah!!”

Anas bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih engkau sukai, berbakti kepada ke dua orang tua atau beribadah selama seribu tahun??”
Nabi SAW bersabda, “Wahai Anas, yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap, karena sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang tentu lenyap (pada akhirnya, setidaknya di akhirat kelak). Maka berbakti kepada dua orang tua, lebih aku sukai daripada beribadah selama dua juta tahun!!”

[Ibnu Ghufron]

Tangisan Nabi Kepada 9 Kelompok Wanita Disiksa Dineraka

Kecintaan Nabi terhadap ummatnya, sungguh sangat besar dan luar biasa. Kesedihan dan air mata yang selalu saja membasahi wajah Rasulullah yang agung. Hari demi hari, waktu demi waktu selalu hanya memikirkan nasib ummatnya. Bahkan kerisauannya berlanjut hingga hari kiamat nanti. Subhanallah. Betapa Agung akhlak Rasul kita ini. Hingga Suatu ketika Ali bin Abi Thalib bersama istrinya, Fathimah az Zahrah, mengunjungi Nabi SAW, tetapi beliau tampak sedang menangis penuh kesedihan. Melihat keadaan mertuanya itu, Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau menangis?”
Nabi SAW bersabda, “Pada malam aku diisra’kan ke langit, aku melihat umatku dari para wanita yang sedang mengalami berbagai macam siksaan yang pedih di neraka. Dan saat ini aku teringat dengan keadaan mereka itu sehingga aku menangis!!”

Ali bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, siksaan seperti apakah yang diperlihatkan kepada engkau terhadap wanita-wanita itu?”

Masih dengan wajah yang diliputi kesedihan, Nabi SAW menyebutkan satu persatu keadaan 9 kelompok wanita-wanita yang mengalami penyiksaan tersebut.  Sebagai sesama wanita, Fathimah merasa terenyuh (terhanyut dalam kepedihan) dengan azab yang menimpa kaumnya itu, kemudian ia berkata, “Wahai ayahku, pelipur lara hatiku, beritahukanlah kepadaku, apakah yang dilakukan oleh para wanita tersebut??”

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Fathimah, sekelompok wanita yang disiksa dengan cara digantung dengan rambutnya, dan otaknya dalam keadaan mendidih. Selama hidup di dunia mereka ini tidak pernah menyembunyikan (menutup) rambutnya dari laki-laki lain, yang bukan suami atau mahramnya. Dan ia tidak pernah bertaubat sampai akhir hidupnya!!”

Kemudian Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut. Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara digantung dengan lidahnya, tangannya dikeluarkan (dibelenggu) di punggungnya, kemudian dituangkan aspal panas di tenggorokannya. Selama hidup di dunia, mereka ini sangat senang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya. Mereka ini mati sebelum meminta maaf kepada suaminya dan bertaubat kepada Allah, dan suaminya dalam keadaan tidak ridho (tidak memaafkan) kepadanya.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara digantung dengan dua payudaranya dari belakang punggungnya, kemudian dituangkan zaqqum (buah atau kayu berduri di neraka) pada tenggorokannya. Selama hidup di dunia mereka ini senang menyusui anak-anak orang lain, tanpa perintah suaminya. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara digantung dengan dua tangan dan dua kakinya terikat pada (di atas) ubun-ubunnya, sementara ular-ular dan kalajengking memakan dan menggerogoti dirinya. Selama hidup di dunia mereka ini sering keluar rumah tanpa ijin suaminya, dan juga tidak mau mandi (jinabat) setelah haid dan nifas. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya itu.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara dinyalakan api di bagian bawah tubuhnya (seolah-olah mereka dimasak atau dipanggang), kemudian mereka itu memakan jasadnya sendiri (yang telah matang). Selama hidup di dunia mereka ini senang berhias (mempercantik) diri untuk laki-laki lain, dan suka menggunjing (ghibah, Jawa:ngerasani) orang lain. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya itu.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara wajahnya dijadikan hitam legam, dan mereka memotong-motong tubuhnya dengan gunting api, kemudian memakan usus-ususnya sendiri. Selama hidup di dunia mereka ini senang menunjukkan (memamerkan) tubuhnya, sehingga orang-orang bisa melihat perhiasannya (kelebihan atau keelokan tubuhnya), dan akhirnya kaum laki-laki jadi tertarik kepadanya. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah atas dosanya itu.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara dimasukkan ke dalam peti api, dalam keadaan tuli, bisu dan buta, kemudian otaknya keluar (mengalir) lewat hidungnya. Bau tubuhnya lebih busuk daripada orang yang berpenyakit kusta dan lepra. Selama hidup di dunia mereka ini sebenarnya mampu melaksanakan shalat dan puasa, tetapi mereka tidak mau melaksanakan keduanya, tidak berwudhu, dan juga tidak mandi jinabat. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya itu.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara wajahnya dirubah seperti babi hutan, dan badannya seperti badan himar (keledai), dan sejuta macam siksaan ditimpakan kepadanya. Selama hidup di dunia mereka ini sangat senang berdusta dan mengadu domba sesamanya. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya itu.

Sekelompok wanita lainnya disiksa dengan cara tubuhnya dirubah seperti anjing, kemudian ular-ular dan kalajengking masuk melalui mulut dan kemaluannya, serta keluar dari duburnya. Sementara itu satu malaikat memukul kepalanya dengan pemukul dari api. Selama hidup di dunia mereka ini senang membuat fitnah dan menyebarkannya, serta seringkali membuat jengkel suaminya. Dan mereka ini mati sebelum bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya itu, dan suaminya-pun tidak ridha kepadanya.

Mendengar penuturan Nabi SAW tersebut, Fathimah ikut menangis, sedih bercampur takut, kemudian memohon perlindungan Allah untuk tidak terjatuh pada dosa-dosa tersebut.

Wahai Saudaraku Kaum wanita, Mulailah untuk berfikir dari sekarang. Jauhkan dirimu dari perbuatan hal-hal yang telah dirisaukan oleh baginda Nabi kita. Karena itu pasti akan terjadi. Mulailah memperbaiki diri, karena jika telah mati tanpa sempat bertaubat maka penyesalanlah yang akan terjadi, dan tak akan pernah bisa mengulangnya kembali.
Semoga Allah memberikan petunjuk bagi kita yang membacanya. Amin...


[Ibnu Ghufron]

Ummat Islam Telah Memiliki Surat Izin Di Akhirat

Dahsyatnya hari kiamat sungguh tidak akan ada yang sanggup untuk merasakannya. Namun jika Allah berkehendak maka tidak akan ada yang bisa lari darinya. Hal ini pasti akan kita alami bersama. Ketika dunia ini tiada lagi. Tapi suatu keberuntungan yang tidak terhingga bagi kita Ummat Nabi Muhammad SAW. Kita telah dimuliakan dengan agama Islam. Agama yang Allah berikan surat izin ketika di akhirat. Namun sangat sayang jika surat izin yang diberikan ini tidak digunakan dan diamalkan dengan sungguh-sungguh didunia. Apakah itu ?? Simak kisah berikut ini :

Suatu ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW untuk menyampaikan Wahyu/Firman  Allah QS Ibrahim ayat 48  : “Yauma tubaddalul ardhu ghairal ardhi was samaawaatu wa barazuu lillaahil waahidil qahhaar.” Artinya adalah : “(Yaitu) pada hari (kiamat, ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi SAW berkata. “Wahai Jibril, bagaimana keadaan manusia pada hari kiamat nanti??”

Malaikat Jibril menceritakan bahwa semua manusia akan berkumpul di atas bumi yang putih, bumi baru yang belum ada orang yang berbuat dosa di sana. Ketika terdengar suara jahanam menggelegar satu kali, para malaikat berpegangan pada Arsy, dan masing-masing berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak memohon kepada-Mu kecuali (keselamatan) diriku!!”
(Para Malaikat Allah saja sangat ketakutan, apalagi kita dari golongan manusia nanti... Ya Robbi...)

Jibril menyatakan bahwa saat itu gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Nabi SAW bertanya, “Wahai Jibril, apa yang dimaksud dengan bulu yang dihambur-hamburkan?”

Jibril berkata, “Bulu yang dicabut kemudian dihamburkan (dilemparkan ke segala arah), dan gunung menjadi cair karena takut kepada Jahanam.”
Jibril melanjutkan penjelasannya, pada saat kiamat tersebut, jahanam didatangkan dengan mengeluarkan satu suara yang menggelegar, tali kekangnya ditarik oleh 70.000 malaikat dan ia diberhentikan di hadapan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Allah berfirman dengan Penuh PerkasaNYA, “Wahai Jahanam, bicaralah kamu!!”

Jahanam berkata, “Laa ilaaha illallaah, demi Kemuliaan dan Kebesaran-Mu, Ya Allah, sungguh hari ini saya akan menyiksa orang-orang yang makan rezeki-Mu tetapi tidak mau menyembah-Mu. Tidak akan bisa (selamat) melewati saya, siapa saja yang tidak mempunyai surat ijin!!”
Nabi SAW berkata, ‘Wahai Jibril, apakah surat ijin pada hari kiamat itu??”           

Jibril berkata, “Wahai Muhammad, terimalah kabar gembira, sesungguhnya umatmu telah memiliki surat ijin untuk hari kiamat itu. Ingatlah, orang yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (dengan tulus membaca kalimat Tahlil : Laa ilaaha illallaah), itulah surat ijin untuk bisa melewati shirat (titian, jembatan) jahanam dengan selamat (atau pada akhirnya ia ‘akan’ selamat dari siksaan jahanam)…!!”

Nabi SAW berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan ilham (kepada umatku) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Laa ilaaha illallaah)…!!”

AL HADIST
Anas r.a. meriwatkan  ( Dalam sebuah riwayat yang panjang ), bahwa Nabi SAW bersabda : Orang-orang yang dibebaskan dari neraka , mereka yang pernah mengucapkan La ilaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan ( iman ) walaupun sebesar tepung gandum. Setelah mereka akan dikeluarkan dari neraka mereka yang mengucapkan La ilaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan  ( iman ) walaupun seberat tepung terigu. Sesudaah itu, akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan La ilaha illallah  dan dalam hatinya ada kebaikan (iman ) walaupun sebesar debu. (HR.Bukhari)


Tuesday, September 15, 2015

Kisah Wanita Penzina Berjumpa dengan Abu Huroirah

Abu Hurairah RA, seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi SAW, suatu malam setelah shalat Isya bersama Rasulullah SAW, ia berjalan menyusuri kota Madinah sendirian. Tiba-tiba ia bertemu dengan seorang wanita berkerudung, berdiri di tengah jalan, wanita itu berkata, “Wahai Abu Hurairah, saya telah melakukan dosa besar, maka apakah saya bisa bertaubat??”
Abu Hurairah berkata, “Apakah dosa yang kamu lakukan itu?”
Wanita itu berkata, “Saya telah berbuat zina dan hamil, kemudian anak yang saya lahirkan itu saya bunuh!!”
Abu Hurairah berkata, “Celakalah kamu, dan kamu telah membinasakan (dirimu sendiri)!! Demi Allah kamu tidak bisa lagi bertaubat!!”

Mendengar jawaban Abu Hurairah seperti itu, wanita itu menjerit dengan kerasnya penuh kesedihan sehingga ia jatuh pingsan. Abu Hurairah meninggalkan wanita itu begitu saja. Dalam perjalanan pulang tersebut, hati kecil Abu Hurairah terusik juga. Apakah ia telah memberikan jawaban (fatwa) yang tepat? Memang benar bahwa wanita tersebut telah melakukan dua dosa besar secara berturutan, tetapi apakah memang tidak ada jalan taubat bagi dirinya? Tiba-tiba hati nuraninya mencela sikapnya, “Mengapa engkau berani memberikan fatwa (keputusan) sementara Nabi SAW masih ada di antara kita semua??”

Keesokan harinya setelah shalat subuh, Abu Hurairah menghadap Rasulullah SAW, dan menceritakan peristiwa yang dialaminya malam sebelumnya. Reaksi Rasulullah SAW sungguh sangat tidak diduganya. Ia termasuk salah satu orang terdekat beliau, tetapi saat itu ia justru merasa ketakutan tak terkira. Nabi SAW bersabda dengan keras, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, demi Allah, kamulah yang celaka dan membinasakan (dirimu sendiri), ya Abu Hurairah. Dari mana (dasarnya) kamu bisa memberikan fatwa seperti itu??”

Abu Hurairah hanya tertunduk malu dan terdiam, sekaligus ketakutan. Nabi SAW bersabda lagi, “Apakah engkau tidak (pernah) memperhatikan ayat-ayat Allah ini….”

Kemudian Nabi SAW membacakan ayat-ayat QS al Furqaan 68-70 sebagai berikut : Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Abu Hurairah meminta Nabi SAW untuk memohonkan ampunan baginya kepada Allah atas kekeliruannya, kemudian ia meminta ijin untuk mencari wanita tersebut. Nabi SAW mengijinkannya dan ia berjalan menyusuri lorong-lorong kota Madinah. Setiap bertemu seseorang, ia menanyakan keberadaan wanita tersebut. Ia tidak berhenti mencari kecuali pada waktu-waktu untuk shalat, sehingga banyak anak-anak yang mengatakan kalau ia telah gila.


Pada malam harinya, ketika ia melalui jalan dimana ia bertemu dengan wanita tersebut untuk ke sekian kalinya, ia melihat wanita itu berdiri di tempat yang sama. Abu Hurairah segera menghampirinya, dan meminta maaf atas perkataannya malam sebelumnya. Ia juga menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW dan fatwa beliau bahwa taubatnya bisa diterima oleh Allah. Sekali lagi wanita itu menjerit, tetapi kali ini karena rasa gembira yang tidak tertahankan, kemudian ia berkata, “Saya mempunyai sebuah kebun, dan kebun itu saya shadaqahkan untuk orang-orang miskin sebagai kaffarat dari dosa-dosaku!!”

Subhanallah ...
Semoga Kisah ini Menambah Keimanan Kita..
[Ibnu Ghufron]

Wanita Bermulut Tajam Berubah Karena Bekas Kunyahan Nabi

Didalam diri Rasulullah terdapat banyak sekali keberkahan yang mengalir dari tubuhnya. Banyak para sahabat yang ingin mendekap tubuh Rasulullah. Dan meyakini bahwa akan menjadi tameng dari panasnya api neraka, seperti yang dilakukan Ukasyah. Lihat kisahnya dijudul Kisah Mengharukan Detik Wafatnya Rasulullah SAW. Bahkan sisa air wudhu’ beliau pun mereka berebut.

Suatu kejadian yang unik dan luar biasa, tatkala seorang wanita yang hari-harinya selalu berbicara keji, menyakitkan dan terkesan tajam bagi orang yang mendengarkannya. Namun dikarenakan asbab makanan kunyahan Nabi wanita tersebut dapat berubah total dari yang biasanya. Berikut kisah selengkapnya :

Ada seorang wanita yang mulutnya ‘tajam’ sekali, ia suka mengeluarkan kata-kata keji (atau komentar yang menyakitkan/tidak mengenakkan) kepada orang-orang yang ditemuinya, baik laki-laki atau perempuan. Suatu ketika ia melewati rumah Aisyah RA dan Nabi SAW sedang berada di sana, beliau sedang duduk menekuk lutut sambil makan dendeng (daging yang dikeringkan). Melihat keadaan Nabi SAW tersebut, ia mendekat dan berkata, “Lihatlah orang ini duduk seperti duduknya hamba sahaya!!”

Mendengar komentar seperti itu, Nabi SAW hanya tersenyum dan bersabda, “Aku memang seorang hamba, karena itu aku duduk seperti duduknya seorang hamba, dan aku makan seperti makannya seorang hamba!!”

Wanita itu tidak berkata apa-apa karena ternyata Nabi SAW tidak membantah perkataannya, bahkan menguatkan/membenarkannya. Beliau berkata kepadanya, “Makanlah!!” Nabi menawarkan.
Wanita itu berkata, “Tidak, kecuali engkau memberi makan kepadaku dengan tanganmu sendiri!!”
Nabi SAW mengambil sepotong dendeng dan memberikan kepada wanita tersebut, bahkan beliau bermaksud menyuapinya. Tetapi ia berkata lagi, “Tidak, kecuali jika engkau memberikan makanan kepadaku dari (makanan yang ada di) mulutmu!!”

Saat itu beliau memang sedang mengunyah sepotong dendeng, maka segera saja beliau mengeluarkannya dari mulut beliau dan menyuapkannya kepada wanita tersebut. Wanita itu mengunyah beberapa saat kemudian menelannya.
Segera setelah daging bekas kunyahan Rasulullah SAW itu masuk ke dalam perutnya, tampak perubahan besar pada wanita tersebut. Kalau sebelumnya dengan santainya ia memandang orang di sekitarnya, dan berkomentar dengan seenaknya, termasuk kepada Nabi SAW, tiba-tiba saja ada perasaan malu yang memenuhi hatinya. Seakan ia tak mampu mengangkat kepala dan memandang orang-orang di sekitarnya, baik laki-laki ataupun perempuan. Dan sejak saat itu pula, ia tidak pernah lagi mengucapkan kata-kata keji yang menyakitkan hati kepada siapapun juga, hingga ia meninggal dunia. 

[Ibnu Ghufron]

Anak Ini Akan Menjadi Pemimpin Semesta Alam

“Anak ini akan menjadi pemimpin semesta alam” inilah ungkapan yang disampaikan seorang pendeta kepada Abu Thalib disaat mereka bertemu di Bhusra, tampak seorang anak bersama Abu Thalib yang masih berusia 12 Tahun.

Sejak kematian Abdul Muthalib (kakek Nabi), Nabi SAW diasuh oleh pamannya, bernama Abu Thalib, saudara kandung ayahnya. Abu Thalib sangat memperhatikan dan mengistimewakan beliau, melebihi kepada anak-anaknya sendiri. Walau ia bukan orang yang kaya dan berkelimpahan, tetapi ia selalu mendahulukan kepentingan putra saudaranya tersebut. Sikap dan perilakunya yang baik, pekertinya yang luhur, cerdas dan sangat berbakti kepada orang tua dan beberapa hal menarik lainnya, yang menyebabkan Abu Thalib bersikap seperti itu.

Ketika Nabi SAW berusia 12 tahun, Abu Thalib berdagang ke Syam. Sebenarnya Abu Thalib berat membawa beliau yang masih kecil menyeberangi lautan pasir yang begitu luas. Begitu banyak halangan dan kesulitan yang harus dihadapi dalam perjalanan seperti itu. Tetapi ternyata Nabi SAW menyatakan kesediaan dan keikhlasannya untuk mengikuti pamannya tersebut. Tentu sikap beliau itu sangat melegakan, karena pada dasarnya Abu Thalib memang tidak ingin berpisah lama dengan keponakannya yang menakjubkan itu.

Perjalanan kafilah dagang tersebut berjalan lancar. Nabi SAW belajar banyak dari perjalanannya yang pertama ini. Luasnya padang pasir yang seolah tak bertepi, gemerlap gemintang di langit yang jernih dan melengkung sempurna, daerah-daerah yang mempunyai kisah di masa lalu, seperti Madyan, Wadil Qura, peninggalan kaum Tsamud dan lain-lainnya menambah perbendaharaan pengetahuan beliau.

Ketika kafilah dagang ini tiba di daerah Bushra, sudah termasuk wilayah Syam bagian selatan, mereka dihentikan oleh seorang rahib (pendeta) Nashrani yang bernama Buhaira. Rahib Buhaira yang nama aslinya Jurjis ini, sebelumnya tidak pernah meninggalkan tempatnya, ia hanya menghabiskan waktunya untuk ibadah demi ibadah kepada Allah. Bushra adalah wilayah Syam yang sebagian besar penghuninya adalah orang-orang Arab, walau berada di bawah kekuasaan Romawi yang beragama Nashrani. Artinya, keberadaan orang-orang Arab sebenarnya tidak asing bagi Buhaira, tetapi hari itu tiba-tiba ia memerintahkan pembantunya menyediakan jamuan yang istimewa untuk tamunya orang-orang Arab.

Buhaira memerintahkan pembantunya untuk mengundang anggota kafilah tersebut menjadi tamu kehormatan. Karena menganggap Nabi SAW masih kecil, Abu Thalib meminta beliau menunggu saja di antara unta-unta yang ditinggalkan di luar, dan beliau tidak keberatan. Perjalanan itu sendiri begitu menyenangkan bagi Nabi SAW, apalagi melihat keadaan kota Bushra yang begitu indah dan ‘moderen’ dibandingkan dengan kota Makkah atau daerah ‘pedalaman’ padang pasir lainnya. Sepertinya beliau lebih menyukai berada di luar daripada masuk ke dalam rumah atau tempat tinggal rahib tersebut.

Ketika anggota kafilah masuk ke rumahnya, Buhaira memperhatikan mereka satu persatu, kemudian dengan keheranan ia berkata, “Apakah ada di antara kalian yang tertinggal, tidak ikut masuk ke sini??”
Abu Thalib berkata, “Ada keponakanku yang masih kecil tinggal di luar, sambil menjaga unta-unta dan barang dagangan kami!!”
“Bisakah kalian membawanya kemari??” Kata Buhaira.

Abu Thalib memerintahkan seseorang untuk menjemput Nabi SAW, dan begitu beliau tiba di hadapan Buhaira, rahib itu memperhatikan dengan seksama, termasuk sedikit menyingkap kain beliau di bagian bahu belakang. Sambil memegang tangan Nabi SAW, Buhaira berkata, “Anak ini akan menjadi pemimpin semesta alam, anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam!!”
Abu Thalib berkata, “Darimana engkau tahu tentang hal itu?”

Buhaira berkata, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tidak ada bebatuan dan pepohonan kecuali mereka bersujud kepada anak ini. Mereka tidak sujud, kecuali kepada seorang nabi. Kalau ia berjalan, sebenarnya ia selalu dinaungi awan, hanya saja kalian tidak menyadarinya. Aku bisa mengetahuinya dari cincin nubuwwah yang ada di bagian bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. Aku juga mendapatkan tanda-tanda itu dalam kitab suci agama kami..!!”

Kemudian Buhaira mewasiatkan agar menjaga Nabi SAW dengan sebaik-baiknya, bahkan menyarankan untuk membawa beliau pulang ke Makkah, sebelum bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Romawi di Syam. Jika mereka mengenali tanda kenabiannya, Buhaira khawatir mereka akan mengganggunya, atau bahkan menyakitinya dan membunuhnya. Belum selesai Buhaira memberikan nasehatnya kepada Abu Thalib, tampak sembilan orang tentara Romawi menuju rumahnya. Ia menyambutnya dan berkata, “Untuk apa kalian ke sini?”

Salah satu dari mereka berkata, “Kami dengar dari pendeta-pendeta kami bahwa pada bulan ini ada seorang (calon) nabi dari bangsa Arab yang akan mengunjungi negeri ini. Tidak ada satu jalanpun kecuali dikirim penjagaan di sana, dan kami yang bertugas di sini!!”
Buhaira berkata, “Bagaimanakah pendapat kalian jika Allah menghendaki sesuatu, dapatkah seseorang, bagaimanapun kuatnya akan mampu  menghalanginya?”
Mereka berkata “Tidak!!”
Buhaira berkata lagi, “Karena itu, jika nantinya kalian bertemu dengannya, berba’iatlah kalian kepada Nabi itu, sesungguhnya ia benar-benar seorang Nabi…!!!”

Pasukan itu tinggal di sekitar rumah rahib itu, melakukan penjagaan di jalan masuk ke Syam tersebut. Diam-diam Abu Thalib memerintahkan beberapa orang anggota kafilahnya untuk membawa Nabi SAW pulang ke Makkah, sesuai dengan saran Rahib Buhaira tersebut.


[Ibnu Ghufron]