Friday, September 4, 2015

Perjalanan Kita DiMahsyar Nanti & Syafaat Nabi Bagi Ummatnya

Setelah kita hidup dialam dunia yang saat ini, ternyata masih sangat jauh perjalanan yang akan kita lalui setelah kematian. Untuk itu saya sengaja menyajikan tulisan ini agar kita kiranya, dapat merenung dan memikirkan bagaimana keadaan kita nantinya disana kelak. Seraya mempersiapkan bekal untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Mungkin kita sama sekali tidak terfikir oleh itu, apalagi kita disibukkan dengan hoby dan kesenangan yang kita lakukan. Sehingga kita lupa akan kewajiban kita sebagai hamba, dan suatu saat kita akan menjalani kehidupan yang begitu dahsyatnya dialam Mahsyar Nanti. Berikut kisah Perjalanan Kita di Mahsyar Nanti dan Syafaat Nabi bagi Ummatnya. Yang diambil dari cerita dan sabda baginda Nabi Muhammad SAW. Yang Semoga keyakinan dan Amal kita bertambah setelah membacanya.

Setelah Hari Kiamat Usai, Maka Semua manusia, sejak Nabi Adam AS hingga yang terakhir mati pada hari kiamat, dibangkitkan kembali dari kematiannya dengan tiupan sangkakala Malaikat Israfil, yang setelah itu kita tidak akan merasakan kematian lagi. Setelah itu kitasemua digiring menuju padang Makhsyar. Secara umum, manusia terbagi dalam tiga kelompok, yakni yang berkendaraan, yang berjalan kaki, dan yang berjalan dengan wajahnya.

Umat Nabi SAW sendiri terbagi dalam dua belas kelompok ketika dibangkitkan, satu kelompok yang dibangkitkan dengan wajah bersinar seperti bulan pertama, dan sebelas kelompok lainnya dibangkitkan sesuai dengan kadar dosanya masing-masing. Ada yang dibangkitkan tanpa tangan dan kaki padahal saat hidup di dunia lengkap semua, ada yang wajahnya seperti babi, ada yang seperti keledai dengan perut besar yang dipenuhi ular dan kalajengking, ada yang ususnya terburai dengan mulut mengeluarkan darah dan api, ada yang baunya seperti bangkai dan ada juga yang keadaannya sangat mengerikan.

Ketika tiba di padang Makhsyar, kita akan berdiri menunggu keputusan Allah, apakah akan ke surga atau ke neraka? Saat itu matahari didekatkan sehingga keadaannya sangat panas, dan hampir semua manusia dalam keadaan berkeringat, kecuali yang berada di dalam lindungan Allah. Keringat itu ada yang menggenangi sampai tumit, sampai betis, sampai lutut, sampai paha, sampai tulang rusuk, sampai mulut, bahkan ada yang menenggelamkan tubuh, sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia. Dan keringat itu seolah-olah mencambuki tubuh yang mengeluarkannya. Beberapa orang ahli maksiat lainnya juga mengalami siksaan sesuai dengan dosanya.

Didalam hadist Nabi dikatakan. Kita akan berada dipadang Mahsyar selama 50.000 tahun lamanya. Masya Allah..!! Sungguh sangat lama. 1 hari aja di akhirat sama dengan 1000 tahun didunia. Berarti kita tinggal di Mahsyar selama 50 Juta tahun ukuran didunia. Ya Robbi !! betapa tersiksanya didalam keadaan tersebut. Banyak yang meminta agar keadaan itu cepat berlalu. Namun semua itu adalah keputusan yang Maha Perkasa.

Ada tujuh golongan yang mendapat Naungan Allah, sehingga sama sekali tidak merasakan panasnya matahari dan tersiksa oleh keringat seperti yang lainnya. Mereka itu adalah (1) Imam/pemimpin/pemerintah yang adil. (2) Pemuda yang giat beribadah kepada Allah. (3) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah. (4) Pemuda yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan kaya, tetapi ia menolaknya dan berkata, “Aku takut kepada Allah, penguasa alam semesta.” (5) Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah, sehingga mengalir air matanya karena takut kepada Allah. (6) Seseorang yang bersedekah secara rahasia dengan tangan kanannya, sehingga tangan kirinya itu tidak mengetahui. (7) Seorang pemuda yang hatinya selalu ‘tergantung’ (condong) ke masjid.

Ketika semua manusia dalam penantian dan penderitaan tak berujung tanpa kepastian, kecuali tujuh golongan tersebut, salah seorang dari kaum berkata, “Apakah tidak ada yang mengetahui, siapakah yang bisa memintakan pertolongan (syafaat) untuk kita dari Tuhanmu?”
Salah seorang berkata, “Kamu harus datang kepada Nabi Adam…!!”

Maka mereka berombongan menuju ke tempat Nabi Adam AS, dan berkata, “Wahai Nabi Adam, engkau adalah bapaknya umat manusia, Allah menciptakan engkau dengan kekuasaan-Nya, Dia yang meniupkan ruh kepada engkau, Dia memerintahkan para malaikat bersujud kepada engkau dan mereka bersujud. Maka mintakanlah syafaat untuk kami dari Tuhanmu!! Apakah engkau tidak melihat bagaimana penderitaan kami ini??”

Nabi Adam berkata, “Hari ini Tuhanku sangat marah dengan kemarahan yang belum pernah ada. Dan setelah itu Dia akan pernah marah seperti ini lagi. Dia telah melarang aku untuk mendekati pohon kayu itu, tetapi aku telah mendurhakai-Nya dan mendurhakai diriku sendiri. Karena itu aku malu untuk meminta tolong kepada-Nya!! Pergilah kalian kepada Nuh!!”

Masih dengan ‘siksaan’ keringat yang berbeda-beda derajadnya, mereka berombongan mendatangi tempat Nabi Nuh AS, dan berkata, “Wahai Nabi Nuh, engkau adalah utusan Allah yang pertama untuk penduduk bumi ini, dan Allah menyebut engkau sebagai hamba yang bersyukur. Karena itu mintakanlah syafaat untuk kami dari Tuhanmu!! Apakah engkau tidak melihat akibat dari dosa-dosa yang kami lakukan kepada-Nya??” 

Nabi Nuh berkata, “Pada hari ini Tuhanku telah marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini. Bagiku ada satu doa mustajabah, tetapi aku telah menggunakannya untuk mendoakan kaumku. Nafsi, nafsi (urus saja diri sendiri!!), pergilah kalian kepada orang selain aku, pergilah kepada Ibrahim!!”
Mereka bergerak berombongan menuju tempat Nabi Ibrahim AS, lalu berkata, “Wahai Nabi Ibrahim, Engkau adalah Nabinya Allah sekaligus Kekasih-Nya (Kholilullah) di antara penduduk bumi ini. Maka mintakanlah syafaat kepada Tuhanmu, tidakkah engkau melihat (akibat) dosa-dosa yang telah kami lakukan kepada-Nya ini??”

Nabi Ibrahim berkata, “Hari ini Tuhanku marah dengan kemarahan, yang sebelumnya Dia belum pernah marah seperti ini, dan setelah ini Dia tidak akan marah seperti ini. Sungguh aku telah ‘bersalah’ kepada-Nya sebanyak tiga kali. Pergilah kalian kepada selain aku, pergilah kepada Musa!!”

Orang-orang yang mengalami siksaan dan ketidakpastian itu berjalan lagi menuju tempat Nabi Musa AS, dan berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah, Allah memuliakan engkau dengan risalah dan kalimat-Nya atas manusia. Maka mintakanlah syafaat untuk kami dari Tuhanmu!! Apakah engkau tidak melihat (akibat) dosa-dosa yang kami lakukan kepada-Nya??”

Nabi Musa berkata, “Hari ini Tuhanku marah dengan kemarahan, yang sebelumnya Dia belum pernah marah seperti ini, dan setelah ini Dia tidak akan marah seperti ini. Sesungguhnya aku telah membunuh satu jiwa, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Pergilah kalian kepada selain aku, pergilan kepada Isa!!”

Mereka bergerak berombongan menuju tempat Nabi Isa AS dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya, Dia meletakkan Ruh-Nya kepada Maryam, dan engkau dikehendaki-Nya bisa berbicara ketika masih dalam ayunan. Maka tolonglah berikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu, apakah engkau tidak melihat (akibat) dosa-dosa yang telah kami lakukan kepada-Nya?”

Nabi Isa berkata, “Hari ini Tuhanku marah dengan kemarahan, yang sebelumnya Dia belum pernah marah seperti ini, dan setelah ini Dia tidak akan marah seperti ini. Sesungguhnya Dia telah menyebutkan dosa-dosaku, nafsi, nafsi…Pergilah kalian kepada selain aku, pergilah kalian kepada Muhammad!!”

Sekali lagi mereka bergerak berombongan menuju tempat Nabi Muhammad SAW, lalu berkata kepada beliau, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan panutup para nabi, dosa-dosa engkau telah diampuni, baik yang terdahulu atau yang terkemudian. Tolong, berilah syafaat kepada kami atas Tuhan engkau. Apakah engkau tidak melihat (akibat) dosa-dosa yang kami lakukan kepada Dia??”

Tidak seperti Nabi-nabi sebelumnya, Nabi SAW menyanggupinya dan bersabda, “Aku mempunyai hak memberikan syafaat, yakni kepada orang-orang yang dikehendaki Allah dan disenangi-Nya!!”

Ada beberapa versi tentang pertemuan dan percakapan antara manusia dengan para Nabi yang diminta untuk memberikan syafaat tersebut, tetapi intinya adalah hanya Nabi SAW yang akhirnya ‘berani’ menghadap Allah untuk meminta syafaat untuk manusia.

Sebenarnya setiap nabi mempunyai satu doa mustajab, yang Allah pasti akan mengabulkan jika ‘fasilitas’ doa itu digunakan. Tetapi hampir semua nabi-nabi tersebut telah menggunakannya di dunia. Nabi Nuh menggunakan untuk menenggelamkan kaumnya yang ingkar dalam air bah, Nabi Ibrahim menggunakan untuk menyelamatkan dirinya dari api Namrudz, Nabi Musa menggunakan untuk menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya di Laut Merah, dan begitu pula dengan nabi-nabi lainnya, kecuali Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah bersabda, “Setiap nabi memiliki doa (mustajab) yang selalu diucapkan. (Tetapi) aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.” Atau dalam riwayat lainnya, “Setiap nabi mempunyai doa yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat!!”  

Kemudian Nabi SAW bergerak/berjalan menuju Arsy Allah. Beliau meminta ijin masuk dan diijinkan. Hijab demi hijab dibukakan untuk beliau, dan Allah mengajarkan (mengilhamkan) pujian-pujian yang belum pernah diucapkan oleh mahluk manapun, termasuk para malaikat. Nabi SAW bersujud kepada Allah, dan melazimi mengucapkan pujian-pujian tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, maka pasti akan diberikan kepadamu!! Berilah syafaat, maka syafaatmu itu akan dikabulkan!!”

Nabi SAW bangkit dari sujudnya dan berkata, “Ya Allah, berilah keputusan di antara hamba-hamba-Mu, sungguh telah terlalu lama mereka menunggu, dan masing-masing telah jelas dosanya (dan kebaikannya) ketika di pelataran Makhsyar…!!”

Allah mengabulkan permintaan Nabi SAW. Siksaan berupa keringat dan matahari yang didekatkan dihilangkan. Kemudian Allah memerintahkan agar mendatangkan surga dengan segala macam keindahan dan kenikmatannya. Setelah itu didatangkan pula neraka dengan segala macam siksa dan kesengsaraan yang akan dialami penghuninya, dengan semua malaikat penjaga dan penyiksanya. Ketika manusia yang berada di Makhsyar mendengar gemuruh apinya, merasakan percikan hawa panasnya dan segala macam hal yang memberatkan akibat kedatangan neraka tersebut, mereka semua berlutut, tidak terkecuali para nabi dan rasul, termasuk yang tadinya diminta wasilahnya. Para Nabi dan Rasul itu hanya bisa berkata, “Ya Allah, pada hari ini kami tidak meminta yang lain lagi, nafsi, nafsi!!”

Nabi SAW sendiri ketika melihat pemandangan tersebut juga berseru, tetapi berbeda dengan seruan para nabi dan rasul lainnya. Beliau bersabda, “Umatku, umatku!! Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku!!”

Neraka makin mendekat, apinya makin berkobar dan menjilat-jilat layaknya ingin mencaplok para pendosa yang sedang berkumpul di Makhsyar. Tiba-tiba Nabi SAW mendatangi neraka dan mengambil kendalinya dari tangan para malaikat, beliau bersabda, “Kembalilah engkau, menyingkirlah jauh ke belakang!! Biarkan mendatangi engkau, yang menjadi rombongan (penghuni) engkau!!”

Neraka itu berkata, “Biarkanlah aku menempuh jalan yang ditentukan untukku, sesungguhnya engkau, Muhammad, adalah haram bagiku (menyentuhmu)…!!”
Tetapi terdengar seruan Allah kepada neraka dari balik Arsy, “Dengarlah apa yang dikatakan Muhammad, dan patuhilah dia!!”

Kemudian neraka diseret menuju sisi kiri yang jauh dari Arsy sehingga pengaruhnya jauh berkurang terhadap manusia yang sedang berkumpul di Makhsyar. Inilah syafaat Rasulullah yang bersifat umum, di mana semua manusia merasakan manfaatnya, baik yang beriman ataupun yang ingkar.

Allah memerintahkan malaikat untuk membentangkan shirat, jembatan yang melintang di atas neraka dan juga ditegakkan mizan, timbangan amal untuk menghisab amal perbuatan manusia selama di dunia. Secara bersamaan, saat itu beterbangan buku catatan amal menuju pemiliknya masing-masing. Ada yang menerimanya dari arah kanan, yakni orang-orang yang beriman dan bertakwa, orang-orang yang beriman tetapi durhaka dan bergelimang dosa akan menerima dari arah kirinya, dan orang-orang musyrik dan ingkar akan menerima dari arah belakang.

Para Nabi dan Rasul akan dihadapkan kepada umatnya untuk mempertanggung-jawabkan tugas risalahnya, dan akhirnya mereka akan masuk surga. Tentunya yang pertama dan memimpin adalah Nabi Muhammad SAW, dan yang terakhir adalah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karena harus dilakukan hisab dahulu atas kerajaannya di dunia. Bagi para Nabi dan Rasul itu telah disediakan mimbar-mimbar dari emas, dan mereka semua telah duduk di atasnya. Tetapi mimbar yang terbesar, terbaik dan terindah ternyata dalam keadaan kosong, mimbar itu adalah milik Nabi SAW. Ternyata beliau memilih untuk berdiri menghadap Allah dan meminta ijin memberi syafaat untuk umatnya, dan Allah mengabulkannya.

Saat itulah muncul suatu seruan (nida’) yang ditujukan kepada umat Nabi SAW yang sedang berkumpul di Makhsyar, “Dimanakah orang-orang yang memiliki keutamaan??”

Sekelompok orang dari umat beliau berjalan cepat menuju ke surga, dan para malaikat menyambutnya dan berkata, “Sesungguhnya kami melihat kalian berjalan cepat ke surga, sedangkan kalian belum dihisab, siapakah kalian ini??”
“Kami adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan!!” Kata mereka.
Tentunya pengetahuan mereka akan keutamaan tersebut didasarkan dari catatan buku amal yang telah mereka terima sebelumnya. Para malaikat itu bertanya, “Apakah keutamaan kalian?”

Mereka berkata, “Ketika kami didzalimi (dianiaya) kami bersabar, dan ketika dijahati kami memaafkan orang yang berbuat jahat tersebut!!”
Para malaikat berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga, dia adalah sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal!!”
Setelah mereka masuk semua ke surga, terdengar seruan (nida’) lainnya, “Di manakah orang-orang yang ahlu sabar?”

Sekelompok orang dari umat beliau berjalan cepat menuju ke surga, dan para malaikat menyambutnya dan berkata, “Sesungguhnya kami melihat kalian berjalan cepat ke surga, sedangkan kalian belum dihisab, siapakah kalian ini??”
“Kami adalah orang-orang ahlu sabar!!” Kata mereka.
“Terhadap apakah kalian bersabar??” Tanya para malaikat.
Mereka berkata, “Kami bersabar dalam berbuat taat kepada Allah, kami juga bersabar dari berbuat maksiat kepada Allah, dan kami juga bersabar dalam menerima cobaan Allah!!”
Para malaikat berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga!!”
Terdengar lagi satu seruan (nida’), “Di manakah orang-orang yang saling mengasihi karena Allah??”

Sekelompok orang lainnya dari umat Nabi SAW berjalan cepat menuju ke surga, dan para malaikat menyambutnya dan berkata, “Sesungguhnya kami melihat kalian berjalan cepat ke surga, sedangkan kalian belum dihisab, siapakah kalian ini??”
“Kami adalah orang-orang yang saling mengasihi karena Allah, saling memberi karena Allah dan saling berjanji karena Allah!!”
Para malaikat itu berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga!!”

Nabi SAW sangat gembira dengan adanya mereka yang masuk surga tanpa hisab tersebut. Namun demikian beliau masih belum mau masuk kembali ke surga, beliau berdiri mengawasi umat beliau yang telah selesai dihisab dan melalui shirat. Mulut beliau tidak pernah lepas dari doa, “Allaahumma sallim sallim!!” Artinya adalah : Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku!!

Umat Nabi SAW melewati shirat dengan bermacam-macam cara, ada yang secepat kilat menyambar, bagai angin yang kencang, bagai burung yang terbang, bagai kuda yang berlari, bagai orang yang berlari, orang yang berjalan, ada yang cepat ada yang pelan-pelan, bahkan ada yang merangkak dan merayap. Ada yang memerlukan waktu sekejab, harian, bulanan dan ada yang memerlukan hingga puluhan, ratusan, ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun untuk bisa selamat sampai di seberang, dan akhirnya masuk surga.

Saat itu waktu menjadi sangat relatif, walau begitu lamanya terasa bagi mereka yang menyeberang shirat, tetapi tidak terasa bagi Nabi SAW, bahkan kegembiraan beliau selalu bertambah ketika ada umat beliau selamat sampai di ujung perjalanan, walau keadaan tubuhnya ada yang tersambar api neraka hingga hangus. Begitu dimandikan di Nahrul Haya’ (sungai kehidupan), mereka kembali seperti semula, bahkan lebih sempurna penampilan fisiknya, dan akhirnya masuk surga.

Nabi SAW memang bisa mengenali umat beliau di antara begitu banyak umat yang berada di Makhsyar dan yang sedang menyeberang shirat. Ketika itu beliau melihat beberapa kelompok umat beliau yang tertahan di shirat, padahal begitu banyak yang telah sampai dan masuk surga. Maka beliau berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril, mengapa ada umatku yang masih tertahan di shirat??”
Jibril diam, tidak segera menjawab, mungkin tidak bisa menjawab, atau tidak tega untuk menjawab, karena jawabannya pasti akan membuat Nabi SAW bersedih. Mereka yang tertahan itu memang umat Nabi SAW, yang tidak bisa tidak harus masuk neraka untuk menebus dan membersihkan dosa dan kesalahan mereka. Kemudian Allah berfirman (mengilhamkan) kepada Jibril tanpa diketahui Nabi SAW, “Singkirkanlah mereka ke lembah antara surga dan neraka, hingga Muhammad masuk surga!!”

Maka satu persatu mereka disingkirkan dari shirat dan dikumpulkan di suatu lembah di sisi neraka, yang tidak terlihat Nabi SAW. Ketika beliau tidak lagi mengenali dan melihat umat beliau di makhsyar atau di shirat, beliau beranggapan mereka telah masuk semua ke surga maka beliau juga masuk surga. Setelah itu Allah berfirman kepada Zabaniah, “Serahkanlah mereka (umat Nabi SAW) kepada Malik!!”

Ketika Malaikat Malik melihat mereka, ia cukup keheranan karena keadaannya tidak dibelenggu, wajahnya tidak hitam legam, tetap berjalan dan bertumpu dengan kaki mereka, berbeda sekali dengan penghuni neraka sebelumnya. Ia bertanya, “Umat siapakah kalian ini??”
“Jangan menanyakan itu, wahai Malik, kami malu bercerita kepadamu, tetapi kami ahli Qur’an, berpuasa di bulan Ramadhan, berhaji, berjihad, menunaikan zakat, menyantuni anak yatim, mandi saat jibanat dan shalat lima waktu!!”
“Celaka sekali, bukankah seharusnya Al Qur’an itu mencegah kalian berbuat maksiat kepada Allah, rasanya tidak mungkin ini terjadi!!“ Kata Malaikat Malik.
“Wahai Malik, janganlah menghina kami, saat ini kami telah selamat dari hinaan Allah!!”        

Lalu terdengar suatu seruan, “Hai Malik, masukkanlah mereka ke pintu yang tertinggi dari neraka!!”
Malaikat Malik berpaling bersiap melaksanakan perintah tersebut, tetapi mereka berkata, “Berilah kesempatan kepada kami untuk menyesali diri!!”
“Tidak ada waktu untuk itu!!” Kata Malik.
Tetapi kemudian terdengar seruan, “Hai Malik, biarkanlah mereka menangisi dirinya!!”

Mereka berkelompok-kelompok kemudian menangis menyesali diri dan perbuatan maksiat mereka waktu di dunia. Kemudian Malaikat Malik menggiring mereka hingga di tepi jurang neraka, seribu malaikat Zabaniyah yang tidak punya rasa kasihan langsung menangkap dan melemparkannya ke pintu neraka yang tertinggi (yang terdangkal). Api yang berkobar menyambut dan melalap tubuh-tubuh tanpa daya tersebut. Ketika api neraka akan membakar habis hati dan wajahnya, terdengar seruan, “Tahanlah, taruhlah saja api itu di dada dan wajahnya. Mereka memang mengingkari ikrar mereka, tetapi mereka mengenal Aku lewat hati mereka, mereka juga pernah bersujud kepada-Ku dengan wajah-wajah mereka!!”

Mendengar seruan seperti itu, salah salah seorang dari mereka juga berseru, “Wahai Rasulullah, wahai Abul Qasim, Wahai Muhammad yang selalu berbuat baik kepada janda dan anak yatim, wahai orang yang paling mulia pada hari kiamat, wahai pemuka seluruh umat, wahai pembuka pintu surga, wahai penutup pintu neraka bagi umatmu yang lemah, yang tidak tahan panas api neraka, siramilah kami dengan syafaatmu agar kami masuk surga!!”

Kemudian seorang lagi berseru keras, sambil meletakkan tangannya di telinganya seperti seorang muadzin, “Kami adalah umat Muhammad!!”
Berturut-turut akhirnya mereka semua berseru mengakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya mungkin mereka malu mengaku sebagai umat beliau karena gelimang dosa dan maksiat yang dilakukannya, tetapi ketika merasakan pedihnya siksaan, dan juga adanya seruan (Allah), yang walau sedikit, mengakui keimanan mereka, mereka akhirnya mengakui dan menyadari kalau hal itu adalah satu-satunya jalan keselamatan di saat seperti itu.

Malaikat Malik ikut terhanyut dengan seruan mereka itu dan memohon ijin Allah untuk menemui Nabi SAW di surga, dan Allah mengijinkannya. Ketika berada di hadapan Nabi SAW, Malaikat Malik berkata, “Wahai Muhammad, engkau bersenang-senang di surga sementara umatmu yang lemah membutuhkan bantuanmu. Mereka benar-benar lemah dan sangat menderita di neraka, bantulah mereka!!”

Beliau tersentak kaget, dan segera berangkat ke neraka bersama Malaikat Malik. Di tepi jurang neraka, beliau mendengar tangisan dan jeritan pilu mereka yang memanggil nama beliau. Nabi SAW tidak tahan mendengarnya dan ikut menangis, kemudian berkata, “Wahai Malik, keluarkanlah umatku dari neraka!!”
Malaikat Malik berkata, “Aku tidak berani mengeluarkan mereka tanpa perintah Allah!!”

Nabi SAW bergerak/berjalan menuju Arsy, dan ketika tiba di hadirat Allah, beliau bersujud sangat lama. Ketika bangkit dari sujud, beliau berkata, “Wahai Allah, seperti inikah yang Engkau janjikan untuk tidak menyiksa umatku di neraka??”
Allah berfirman, “Wahai Muhammad, mereka telah melupakan dirimu, meninggalkan syariatmu ketika di dunia, karena itu Aku juga melupakan syafaat yang bisa engkau berikan kepada mereka. Tetapi sekarang telah cukup, berilah syafaat kepada mereka!!”

Nabi SAW kembali menemui Malaikat Malik dan menyatakan memberi syafaat kepada umat beliau tersebut, dan Allah memerintahkan Malaikat Malik mengeluarkan mereka dari neraka, sehingga hanya orang-orang kafir yang tertinggal di neraka. Orang-orang kafir itu berkata, “Andaikata kita dahulu seorang muslim, tentulah kita akan dikeluarkan dari neraka, sebagaimana mereka dikeluarkan!!”

Disinilah penyesalan orang kafir yang tak terhingga dan tak terkatakan, mereka menyesal se- menyesal –menyesalnya. setelah ummat Islam diangkat maka neraka akan ditutup selama-lamanya dan merasakan azab yang keras tanpa ada hentinya. Ya Allah..!! Jauhkan Kami dari semua Ini.


Semoga tulisan ini menjadikan kita lebih bertakwa kepada-NYA dan menjadi Ahli Surga Allah Nantinya tanpa merasakan derita siksa api Neraka (Singgah Ke Neraka). Amin Ya Allah.. [Ibnu Ghufron]

Pejuang Islam Yang Ahli Neraka

Berperang dijalan Allah (Jihad Fisabilillah) adalah amalan tertinggi dalam agama Islam. Banyak hadist Nabi yang menerangkan keutamaannya. Terlebih lagi mereka yang mati berjihad berjuang mempertahankan agama Allah. Para pejuang Agama Islam yakni para sahabat Nabi telah mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT. Ada yang diziarahi oleh para Malaikat, ada juga jenazahnya dilindungi oleh binatang lebah dan lain sebagainya. Baca kisah para Karomah Para Sahabat Nabi.

Namun ternyata ada juga pejuang Islam Yang Ahli Neraka. Mereka berjuang berperang mati-matian bersama Nabi. Tapi akhirnya ia dinyatakan Nabi sebagai penghuni Neraka.
Sungguh Ironis !! Bagaimana Kisahnya? Berikut Kisah selengkapnya :

Ketika akan berlangsungnya perang Hunain tersebut, tiba-tiba Nabi SAW bersabda tentang seorang lelaki muslim yang ikut berjuang di peperangan tersebut, “Orang itu termasuk ahli neraka (akan masuk neraka)!!”

Pertempuran berkecamuk dengan hebatnya, pasukan muslim sempat terdesak, tetapi lelaki tersebut tetap berjuang dengan perkasa tanpa sedikitpun rasa takut. Walau luka-luka di tubuhnya makin banyak, ia terus saja menerjang barisan musuh tanpa gentar. Ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, lelaki yang engkau katakan sebagai ahli neraka itu berjuang fisabilillah dengan mati-matian hingga ia terluka parah!!”
Tetapi sekali lagi Nabi SAW bersabda, “Ia akan masuk neraka!!”

Hampir saja para sahabat ragu dengan pernyataan Rasulullah SAW tersebut. Ketika perang usai dan kemenangan berada di tangan kaum muslimin, lelaki itu dalam keadaan luka parah. Karena begitu banyak luka-luka yang dialaminya, ia merasakan sakit yang tidak terkira. Mungkin ketika sibuk berperang, ia tidak merasakan sakitnya itu. Karena tidak tahan dan tidak mampu bersabar dengan rasa sakitnya itu, ia bunuh diri. Ia menancapkan gagang pedangnya di tanah, dan menempatkan ujung pedang di dadanya, kemudian menjatuhkan diri sehingga tembus dan ia mati seketika.

Para sahabat mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh benar apa yang engkau katakan. Lelaki itu bunuh diri karena tidak mampu menahan rasa sakitnya!!”

Sebagian riwayat menyebutkan, ketika Nabi SAW menyebutkan bahwa lelaki itu adalah penghuni neraka, ada seseorang yang belum memeluk Islam ingin membuktikannya. Ia mengamati dan mengikuti lelaki itu kemanapun lelaki itu bergerak. Seperti kebanyakan sahabat lainnya, ia juga sempat ragu dan bahkan ‘menertawakan’ pendapat Nabi SAW, apalagi ketika pasukan muslim memperoleh kemenangan. Tetapi ketika lelaki itu ternyata bunuh diri, ia segera menghadap Nabi SAW dan berkata, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah!!”

Kemudian ia membaca syahadat menyatakan diri memeluk Islam. Nabi SAW berkata, “Apakah yang terjadi??”
Lelaki itu menceritakan apa yang dilakukannya, dan beliau menanggapinya dengan gembira. Kemudian Nabi SAW memanggil Bilal dan berkata, “Wahai Bilal, bangkitlah dan umumkan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang benar-benar beriman. Dan ada kalanya Allah membela agama (Islam) ini dengan seorang lelaki yang faajir!!”


Faajir adalah kebalikan dari takwa, yang bisa dimaknakan sebagai kefasikan (tetap muslim tetapi durhaka), atau bisa juga ditafsirkan sebagai kekafiran yang akan kekal di neraka. Hal ini tercantum dalam surat asy Syam ayat 8 : Fa-alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa, yang artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Semoga Kisah ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita untuk lebih benar-benar beriman kepada Allah dan senantiasa meluruskan niat kita hanya semata-mata karena Allah Ta’ala. Amin...[Ibnu Ghufron] 

Tuesday, September 1, 2015

Kafir Setelah Dihidupkan Kembali Oleh Nabi Isa

Kisah Inspiratif kali ini merupakan pelajaran bagi kita terutama para wanita yang berani menghianati suaminya. Dalam kisah ini, seorang wanita rela berkhianat kepada suaminya dan kepada Nabi yang telah menghidupkannya kembali, padahal awalnya ia adalah wanita sholihah. Dan akhirnya ia mati dalam keadaan kafir. Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah berikut ini.

Ketika itu, Salah seorang pemuda Bani Israil mempunyai istri yang sangat cantik. Istrinya termasuk wanita yang paling cantik di zamannya. Kecantikan dan keshalehan istrinya menjadikan pemuda ini sangat mencintai istrinya. Namun kebahagiaan rumah tangga itu tidak berjalan lama,istrinya meninggal dunia.

Setelah prosesi pemakaman selesai lelaki ini menunggui kuburan istrinya siang malam tanpa mempedulikan kesehatan dirinya. Dia terus meratapi kematian istrinya dalam waktu yang cukup lama. Sampai ahirnya, Nabi Isa lewat di pekuburan itu, dia melihat pemuda itu sedang menangis.Nabi Isa menghampiri pemuda itu,” Apa yang membuat kamu menangis seperti ini ?”.

Pemuda itu menceritakan kisah perjalanan kasihnya sewaktu istrinya masih hidup tapi kebahagiaan itu berahir dengan deraian air mata.
“ Apakah kamu  merasa senang apabila aku hidupkan istrimu dengan izin Allah ?”, tanya Nabi Isa.

Pemuda itu menjawab,” Iya. Aku akan sangat senang kalau istriku bisa bersama aku lagi”.Mendengar jawaban pemuda di hadapannya Nabi Isa mendoakan penghuni kubur itu agar hidup kembali. Setelah Nabi Isa selesai berdoa keluarlah dari dalam kubur seorang budak hitam dengan api yang menyembur dari hidung, kedua mata dan semua lubang di tubuhnya.

Budak hitam itu berkata,”  "لا اله الا الله عيسى روح الله
Dan Meyakini bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Isa adalah utusan Allah

Pemuda itu berkata,” Wahai Nabi Allah. Bukan kuburan ini tapi kuburan yang ini” sambil menunjukkan ke kuburan yang lain.
Nabi Isa berkata kepada budak hitam yang mengeluarkan api itu,” Kembalilah ke tempatmu!”.
Budak hitam itu ambruk mati masuk ke dalam kubur lalu tanah pekuburan itu menutupinya kembali.

“Bangunlah wahai penghuni kubur ini dengan izin Allah!”, perintah Nabi Isa pada penghuni kubur sebagaimana petunjuk pemuda di depannya. Terlihat kuburan itu terbelah dan dari dalam kubur itu keluarlah seorang wanita sambil membersihkan debu dari kepalanya.
Pemuda itu berkata,” Inilah istriku wahai Ruhullah”.
“Gandenglah dia !”, akhirnya pemuda itu menggandeng tangan istrinya membawanya meninggalkan tempat itu. Karena terlalu lelah pemuda itu berteduh di bawah pohon. Saat itu rasa kantuk menyerangnya.

Istriku, selama beberapa malam aku tidak tidur di atas kuburanmu. Sekarang aku ingin beristirahat”, kata pemuda itu pada istrinya.
“ Silahkan kanda!” kata istrinya.

Pemuda itu meletakkan kepalanya di paha istrinya dan dia pun tertidur pulas. Waktu suaminya sedang pulas tidur, ada putra raja yang paling tampan di zamannya, punya karisma luar biasa,terkenal dermawan dan  tampan lewat dengan berkuda. Tanpa sengaja dia bertatapan pandang dengan wanita itu.

Pandangan yang cuma sekilas itu telah menumbuhkan bibit cinta yang sangat subur dalam hati wanita itu. Wanita itu melepaskan kepala suaminya dari pangkuannya dan beranjak berdiri meninggalkan suaminya. Saat putra raja itu melihatnya dia pun langsung jatuh cinta.

“Bawalah aku!”, wanita itu menawarkan dirinya tanpa malu sedikitpun agar dibawa bersamanya. Putra raja itu membonceng dia di belakangnya. Mereka berdua berboncengan dengan mesra.
Waktu suaminya terbangun dia sudah tidak mendapatkan istrinya di sampingnya. Dia berjalan mengikuti jejak langkah kaki kuda sampai ahirnya dia bisa mengejar istrinya.

“Wahai putra raja, ini adalah istriku. Biarkan dia bersamaku!”, kata pemuda itu.
Tapi ternyata istrinya yang dibela malah mengelak,” Aku adalah dayang putra raja ini, bukan istrimu”.

“Apakah kamu ingin merampas dayangku dari diriku”, jawab putra raja itu membela diri.
“Demi Allah dia adalah istriku. Nabi Isa telah menghidupkannya untukku setelah kematiannya”,pemuda itu juga tidak mau melepaskan istri tercintanya.
Saat mereka bersitegang mengaku dirinya yang paling benar, ternyata Nabi Isa sudah ada di dekat mereka.

Melihat Nabi Isa ada di tempat itu juga pemuda tadi tambah semangat mengaku dirinya yang benar,” Wahai Ruhullah, wanita ini benarkan adalah istriku yang telah engkau hidupkan kembali untukku”.
Nabi Isa,”Iya benar. Dia adalah istrimu. Aku lah menghidupkannya kembali untukmu”.

Wanita itu berkata,” Wahai Ruhullah, pemuda ini adalah pendusta. Aku adalah dayang putra raja”.
Nabi Isa,” Bukankah memang benar kamu adalah wanita yang telah aku hidupkan kembali dengan izin Allah”.
Wanita,” Bukan wahai Nabi Allah. Demi Allah wahai Ruhullah”.
Nabi Isa,” Kembalilah kamu ke asalmu!”.

Setelah Nabi Isa berkata demikian maka wanita itu langsung lunglai dan mati.
Nabi Isa berkata, ”Barang siapa yang ingin melihat seseorang yang mati dalam keadaan kafir lalu dihidupkan kembali dan beriman kemudian mati kembali dalam keadaan beriman, maka lihatlah budak hitam itu. Dan barang siapa yang ingin melihat seseorang yang matinya beriman lalu Allah menghidupkannya kembali, tapi ternyata menjadi kafir kemudian dia mati dalam keadaan kafir, maka lihatlah pada wanita ini”.


Setelah istrinya yang menghianati dirinya dengan berpaling pada lelaki lain sudah mati kembali, pemuda itu bersumpah tidak akan menikah selama-lamanya. Pemuda keluar dari desanya menuju ke tempat  yang sunyi dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Dia beribadah di tempat itu sampai ajal menjemputnya. [Botolinggo.blogspot/An-Nawadir]

Lumpuh setelah mendengar Ucapan “Allah”

Hidup Nabi Muhammad SAW memang selalu saja diliputi oleh berbagai ancaman. Baik dari dalam maupun luar Islam. Bahkan saat Rasulullah tertidur sekalipun, tidak terlepas dengan hal demikian. Salah satu Musyrikin bernama Ghaurats bin Harits mencoba mengancam membunuh Nabi Muhammad. Namun dengan ucapan “Allah” dari bibir Nabi yang mulia, Ghaurats lumpuh dan terjatuh. Seakan tak berdaya dihadapan Rasulullah. Untuk selengkapnya, berikut awal kisahnya :

Pada bulan Rabi’ul awwal tahun 7 hijriah,  Nabi SAW memperoleh informasi bahwa kabilah Bani Tsa’labah dan Bani Muharib, termasuk suku Ghathafan, bersekutu untuk menyerang Madinah, bahkan tidak jarang sebagian dari mereka telah mengganggu kaum  muslim yang tinggal cukup jauh dari Madinah. Karena itu beliau memimpin satu pasukan berjumlah 700 orang menuju suku tersebut di daerah Najd. Suku Ghathafan ini memang terkenal kekuatannya sejak masa jahiliah dan sangat ditakuti, suku ini pula yang bersekutu dengan Suku Quraisy untuk menyerang Madinah pada Perang Khandaq (Ahzab).

Setelah dua hari perjalanan, beliau tiba dan beristirahat di Nakhl, tidak jauh dari Ghathafan. Kebanyakan anggota pasukan tersebut berjalan kaki sehingga banyak yang kakinya pecah-pecah (terluka) dan ada yang kukunya terkelupas. Mereka membalut kaki-kaki mereka dengan kain-kain perca, karena itulah peperangan itu diberi nama Dzatur Riqa’ (yang ada tambalannya), dan tempat mereka singgah diberi nama yang sama.

Melihat kehadiran pasukan Nabi SAW di Nakhl, kabilah-kabilah dari suku Ghathafan itu merasa ketakutan. Sebagian dari mereka menawarkan perdamaian atau menyerah di bawah kekuasaan Madinah, termasuk kabilah Bani Tsa’labah dan Bani Muharib. Sebagian kecil lainnya ada yang memeluk Islam. Pada akhirnya, berangsur-angsur makin banyak dari suku Ghathafan ini yang memeluk Islam.

Jadi tidak terjadi bentrok senjata langsung dalam Perang Dzatur Riqa’ ini, dan kaum muslimin beristirahat cukup tenang di Nakhl, termasuk juga Rasulullah SAW.

Namun demikian, ada saja satu dua orang yang tidak puas dengan perdamaian itu. Salah seorang musyrikin bernama Ghaurats bin Harits yang berasal dari Bani Muharib, berniat untuk membunuh Nabi SAW. Ia berhasil menyelinap di perkemahan kaum muslim, dan ia melihat Nabi SAW sedang tertidur di bawah pohon dan pedang beliau tergantung di sebuah ranting. Ghaurats mengambil pedang itu mengacungkan kepada beliau sambil menghardik, “Wahai Muhammad, tidakkah engkau takut kepadaku?”
Nabi SAW yang segera terbangun, berkata dengan tenang, “Tidak !!”
“Siapakah yang akan menghalangiku untuk membunuhmu?” Tanya Ghaurats lagi.
Dengan Lantang dan tegas Nabi menjawab “Allah!!”

Mendengar  kata ‘Allah’ yang terlontar dari bibir Rasulullah SAW itu, tiba-tiba tubuhnya serasa lumpuh dan pedang itu terlepas dari tangannya, dan ia jatuh terduduk. Beliau segera mengambil pedang itu dan mengacungkannya kepada Ghaurats, dan bersabda, “Siapa yang bisa menghalangiku untuk membunuhmu?”

Ghaurats berkata, “Tidak ada !! Jadilah engkau orang yang sebaik-baiknya menjatuhkan hukuman!!”

Nabi SAW tersenyum mendengar jawabannya itu, dan berkata, “Kalau begitu bersaksilah engkau bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah!!”
“Tidak,” Kata Ghaurats, “Tetapi aku berjanji kepadamu untuk tidak memusuhimu, dan tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memusuhimu!!”

Rasulullah tidak memaksa Ghaurats untuk masuk Islam, beliau memaafkannya dan melepaskannya. Ketika Ghaurats kembali ke kaumnya ia berkata, “Aku baru saja kembali dari sebaik-baiknya orang di dunia ini !!”

Dalam riwayat lain ada peristiwa hampir sama dengan diatas, orang yang mencoba membunuh Nabi tersebut bernama Du’tsur. Namun ia masuk Islam setelah diajak oleh Rasulullah. [Ibnu Ghuron]

3 Kelebihan Orang Miskin Dibanding Orang Kaya

Setiap orang pada dasarnya pasti menginginkan banyak harta dan kehidupan yang jauh lebih baik dari pada dalam keadaan miskin. Namun sebenarnya ada 3 kelebihan orang miskin dibandingkan orang kaya. Inilah yang disampaikan oleh Rasulullah kepada utusan kaum fakir (miskin) yang menemui beliau. Kelebihan ini tidak akan pernah diberikan kepada orang kaya. Sungguh sangat luar biasa ! apa sajakah itu ? yuk ikuti kisahnya berikut ini.

Suatu ketika seorang lelaki menghadap Nabi SAW. Setelah mengucap salam dan dipersilahkan duduk, orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah utusan sekelompok orang-orang fakir (fuqara’) kepadamu!!”

Mata Rasulullah SAW tampak berbinar, kemudian bersabda dengan gembira, “Marhaban (selamat datang) untukmu dan orang-orang yang telah mengutusmu. Sungguh kamu datang dari tengah-tengah kaum yang dicintai Allah…!!”

Lelaki itu tampak sangat gembira dengan sambutan beliau, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum fuqara’ itu berkata : Sesungguhnya orang-orang kaya (aghniya’) bisa mengerjakan semua amal kebaikan. Mereka bisa berhaji sedangkan kami tidak mampu, mereka bisa shadaqah sedangkankan kami tidak mempunyai kemampuan seperti mereka, apabila mereka sakit, mereka bisa memberikan kelebihan hartanya sebagai simpanan (di akhirat)…!!”

Tentu saja Nabi SAW gembira dengan pernyataan utusan tersebut. Kaum fuqara’ itu tidak mengeluhkan kesulitan hidup yang mereka hadapi karena kekurangannya, tetapi ‘mengeluhkan’ ketertinggalannya dalam berbuat baik (beramal saleh) yang berhubungan dengan harta. Maka dengan tersenyum beliau bersabda, “Sampaikanlah kepada kaum yang mengutusmu, barang siapa yang sabar dan tetap ikhlas di antara kalian, maka kalian akan memperoleh tiga kelebihan, yang tidak akan didapatkan oleh orang-orang yang kaya….!!”

Kemudian beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa di surga itu terdapat ruang atau kamar yang terbuat dari yaqut merah. Para penghuni surga itu melihat kamar tersebut layaknya para penghuni dunia melihat bintang yang gemerlap di malam tanpa awan. Kamar tersebut dihuni oleh para nabi yang fakir, para syahidin (yang mati syahid) yang fakir, dan orang-orang mukmin yang fakir, itulah kelebihan yang pertama.

Kelebihan kedua, orang-orang mukmin yang fakir akan mendahului orang-orang mukmin yang kaya selama setengah hari (akhirat), yang setara dengan 500 tahun perhitungan di dunia. Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman akan masuk surga 40 tahun setelah para nabi lainnya, karena Allah telah mengaruniakan kerajaan ketika di surga.

Kelebihan ketiga, jika kaum fuqara itu melafalkan dzikr ‘Subkhaanallah wal hamdu lillaah wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar’ ikhlas dari dalam hatinya, dan orang-orang kaya juga melakukannya, maka orang yang kaya itu tidak akan bisa mengejar keutamaan (pahala) yang diterima kaum fuqara’ itu, walaupun mereka menambahkan shadaqah sebanyak 10.000 dirham. Begitu juga dengan amal kebaikan lain yang dilakukan oleh kaum fuqara’ dengan ikhlas, dan diikuti oleh orang yang kaya.


Utusan itu amat gembira dengan penjelasan beliau dan segera berpamitan pulang. Ketika tiba di antara kaum yang mengutusnya, dan menyampaikan sabda Nabi SAW itu, kaum fuqara’ itu berkata, “Ya Allah, kami merasa puas!! Ya Allah, kami merasa puas!!”